Program Profesi Nurul Fikri adalah Solusi

Posted by NFJaktim On 18 January 2012 No Commented

Banyak pencari kerja dan para lulusan SLTA (SMA, SMK, MA) serta para mahasiswa / umum yang belum memiliki keterampilan (lifeskill) yang bisa diandalkan. Artinya belum ada kompetensi. Untuk itu Kampus LP3T-NF yang beralamat di Jl. Paus Raya No.92F Rawamangun (dekat terminal Rawamangun) Jakarta Timur, membuka perkuliahan Program Profesi Satu Tahun (PPST), atau Program Profesi Dua Tahun (PPDT) dengan tujuan menghasilkan tenaga kerja yang terampil dan profesional di bidang TI yang berbasis LINUX & WINDOWS, turut serta dalam melaksanakan Program Pemerintah “Indonesia Go Open Source” untuk tidak menggunakan piranti lunak bajakan,
melaksanakan Misi dan Visi Yayasan Nurul Fikri untuk turut memberdayakan umat di dalam penguasaan IPTEK, menyediakan SDM IT yang dibutuhkan Indonesia saat ini dengan SINGKAT, TEPAT, KOMPETEN, BERAKHLAK. Silahkan disimak faktanya yang dimuat oleh detik.com pada tanggal 16 Januari 2010 berikut ini.
Banyak calon pelamar kerja di bidang teknologi informasi (TI) yang punya nilai akademis bagus. Namun anehnya, para pelamar ini banyak juga yang dianggap belum mampu menjawab kebutuhan perusahaan.
Fakta ini terungkap dalam ajang kesempatan pencarian kerja yang di gelar JobsDB Career Expo 2010 di Sasana Budaya Ganesha, Tamansari, Bandung.
“Banyak pelamar tidak seperti yang kita harapkan. Kita sering kecewa,” ungkap Ahmad Bagus Santoso, Human Resource Departement PT Indocyber Global Teknologi kepada detikINET di sela acara itu, Sabtu (16/1/2010).
Dijelaskan oleh Bagus, demikian ia akrab disapa, kekecewaan perusahaan disebabkan banyaknya pencari kerja yang hanya bagus secara akademis. Namun saat diuji pengetahuan dasarnya, justru banyak yang tidak bisa.
“IPK (indeks prestasi)-nya tinggi, bagus secara kualifikasi. Tapi saat ditanya hal yang dasar, yang menurut kami mereka mengusainya, mereka tidak bisa. Dan banyak yang seperti ini,” demikian katanya.
Dari hasil analisanya, faktor ini disebabkan mutu lulusan perguruan tinggi yang cenderung instan. Kurikulum yang ada di kampus sering kali tidak mengikutikebutuhan industri, khususnya untuk bidang TI.
“Mungkin karena mereka sekarang cenderung instan, jadi saat ditanya hal yang sangat dasar mereka tidak bisa menjawabnya,” lanjut Bagus.
Dalam pameran tenaga kerja kali ini, ada sekitar 70 perusahaan yang ikut serta. Pada hari pertama, ajang ini dihadiri oleh 5.000 pencari kerja. Ajang ini sendiri berlangsung di Bandung hingga Minggu (16/1/2010).

Leave a Reply